Jumat, 22 Juni 2012

INDOFOOD SALAH SATU MESIN UANG SALIM GROUP

Salah satu mesin uang Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk,  Indofood terus tumbuh dan berkembang sebagai raja industri makanan di Indonesia. Bahkan, bisnis Indofood kian terintegrasi dan bergerak dari hulu hingga hilir. 

Perusahaan ini bergerak di sektor agribisnis, industri tepung terigu, produk makanan hingga menguasai jalur distribusi.  Indofood pun menawarkan saham perdana anak usaha, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk di Bursa Efek Indonesia. Dari IPO tersebut, Indofood meraup dana besar, Rp6,29 triliun.  Sebagian dari dana itu dipakai pengembangan usaha, seperti menambah kapasitas pabrik untuk susu, penyedap makanan, nutrisi serta makanan kaleng. Yang tak kalah penting adalah menggenjot pabrik mi instan, produk paling populer made in Indofood.  Khusus untuk mi instan, penambahan kapasitas pabrik digeber di Jakarta, Palembang, dan Semarang. "Kapasitas noodle akan didongkrak 13 persen dari sekarang 15,7 miliar bungkus per tahun," kata Sekretaris Perusahaan Indofood Sukses Makmur, Werianty Setiawan saat itu.  

Kapasitas produksi belasan miliar bungkus per tahun memang bukan main-main. Itu menempatkan Indofood sebagai produsen mi instan terbesar di dunia. Dari total kapasitas tersebut, sebanyak 11 miliar bungkus adalah produk Indomie. Dari jumlah itu, sebanyak 880 juta bungkus diekspor.  Begitu besarnya produksi Indomie membuat merek ini identik dengan mi instan yang sangat melekat dan dikenal luas masyarakat. Bukan sekadar dikenal dari Sabang sampai Merauke atau Pulau Timor hingga Pulau Talaud. Namun, Indomie jauh mengalahkan merek mi instan saudaranya, seperti Supermi, Sarimi atau Pop Mie. Tak mengherankan jika Indomie secara konsisten mendapatkan sejumlah penghargaan bergengsi setiap tahunnya.  Yang lebih menakjubkan, Indomie bukan hanya dikenal di Indonesia, namun juga di mancanegara. Saat itu, menurut Direktur Indofood Sukses Makmur, Franciscus Welirang, Indomie sudah diekspor ke 80 negara di lima benua selama lebih dari 20 tahun. Indomie bukan hanya dikenal di negara tetangga dekat di Asia seperti Singapura, Malaysia, Brunei, Hong Kong hingga Taiwan.  

Namun, Indomie sudah terbang jauh ribuan kilometer mulai dari wilayah Eropa, Timur Tengah, Afrika hingga benua Amerika. Di negara-negara Afrika dan Timur Tengah, seperti Sudan dan Lebanon malah hampir ada di setiap toko ritel dan supermarket. Di Amerika Serikat, Indomie malah menjadi salah satu hadiah Natal favorit paling murah.  Dengan pasar yang begitu luas hingga 80 negara, tak mengherankan jika kerajaan bisnis Indofood terus melaju. Per 31 Desember 2011, penjualan bersih konsolidasi Indofood sebesar Rp45,33 triliun, tumbuh sekitar 18,04 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp38,4 triliun.  Perseroan pun berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp4,89 triliun atau bertambah 24,31 persen dari sebelumnya yang mencapai Rp3,93 triliun. Berdasarkan data BEI, nilai kapitalisasi pasar Indofood Sukses Makmur mencapai Rp41,2 triliun.  Tentu saja, Indomie adalah penyumbang terbesar pendapatan Indofood. Kontribusinya mencapai hampir 70 persen dari semua produk bermerek made in Indofood.

Hingga sekarang, Anthoni menjabat sebagai presiden direktur dan kepala eksekutif korporat (chief executive officer/CEO) Indofood sejak 2004. Selain itu, Anthoni menjabat sebagai presdir dan CEO Grup Salim..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar